Selamat Datang.... Blog Ini Hanya Ingin Berbagi Ilmu Pengetahuan dan Informasi Bersama.. Semoga Bermanfaat !!!!

Selasa, 29 Mei 2012

BANJARNEGARA... GUDANGNYA PENDEKAR PENCAK SILAT !!!!



BANJARNEGARA...KOTA DAWET AYU DAN GUDANGNYA PENDEKAR PENCAK SILAT !!!!

Sejarah Pencak Silat Banjarnegara
Pencak silat sebagai bagian dari kebudayaan asli Indonesia berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat Indonesia. Begitu juga dengan perkembangannya di Banjarnegara. Sebagai salah satu cabang olahraga andalan yang pernah memecahkan rekor Muri dengan jumlah pesilat 4.190 di tahun 2008 ini, Banjarnegara mampu mencetak pesilat-pesilat tangguh yang terbukti bisa mengharumkan nama kabupaten Banjarnegara di tingkat daerah, nasional, maupun internasional.
Bila menengok sejarah berdirinya pencak silat di Banjarnegara (sekarang menjadi Ikatan Pencak Silat Indonesia/IPSI Cabang Banjarnegara) mulai dirilis sejak tahun 1979. Setelah malang melintang dalam perintisan agar bisa eksis, IPSI terus berbenah untuk melahirkan “pendekar-pendekar” tangguh Banjarnegara yang bisa mengibarkan bendera kota Banjarnegara di tanah air maupun mancanegara.
Ketua Harian IPSI, H.Soebardi Hanif menyatakan bahwa geliat IPSI mulai terlihat dengan munculnya  pimpinan pengurus dimana pada tahun 1994 Drs. H. Djasri, MM.MT yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala DPU Banjarnegara akhirnya bersedia untuk diangkat menjadi Ketua Umum IPSI Banjarnegara.
“Walau tertatih-tatih karena dana pada waktu itu belum dialokasikan secara khusus oleh pemerintah, tetapi melalui pendekatan dengan para atlet, akhirnya setahun kemudian (1995) menuai hasil dengan mengukir prestasi pada kejuaraan daerah di Banyumas melalui Titik Sulasih, Genuk Nur Aisyah, dan Uyung Suprianto,” ungkapnya.
Tahun 1997 muncullah nama Lutfan Budi Santosa yang memulai karir bertandingnya dan langsung menyabet Juara Umum Popda Pelajar di Banyumas. Dari 3 Kabupaten di Banyumas yang mengikuti ajang tersebut, Banjarnegara meraih 11 medali, Cilacap 2 medali, dan Purwokerto hanya 1 medali. Prestasi terus berlanjut pada Porda 2001 dengan menggondol 1 emas, 2 perak, dan 1 perunggu. Lagi-lagi untuk medali emas dikantongi oleh Lutfan.
Karena kesibukannya setelah menjabat sebagai Bupati Banjarnegara, tahun 2002 Drs. H. Djasri, MM.MT yang begitu mencintai pencak silat menyerahkan tampuk pimpinan IPSI kepada Ir. Suryono Pudjo Dwi Muljo, BE,SE,MT,Msc yang dianggap pantas melanjutkan dan memajukan program-program IPSI ke depan. Hal ini ditandai dengan penyerahan panji IPSI dari kepengurusan lama ke pengurus baru periode 2002-2006. Tahun 2006, kepengurusan diestafetkan lagi ke pimpinan yang baru Ir. Arifin Romli yang sampai sekarang masih menjabat sebagai Ketua IPSI Cabang Banjarnegara dan terus aktif mendukung perkembangan pencaksilat di Banjarnegara.

Padepokan Sebagai Cikal Bakal Pesilat
Bisa dikatakan saat ini IPSI cabang Banjarnegara sudah menuai puncak kesuksesannya dengan mengantarkan Lutfan menjadi juara dunia. Diawali dengan memenangkan Kejuaraan Pencak Silat Dunia di Penang, Malaysia tahun 2002. Dari prestasinya tersebut ia bahkan dinobatkan menjadi Duta Bangsa Eksibisi Asian Games 2002 di Busan Korea. Dilanjutkan dengan meraih medali emas pada SEA GAMES tahun 2003 di Hanoi Vietnam, dan terakhir kemenangannya dalam Asian Martial Art Games 2009 di Thiland Awal Agustus 2009 lalu dengan mengalahkan 9 peserta dari negara lain serta memboyong medali emas.
Kesuksesan yang diraih oleh pesilat-pesilat Banjarnegara tidak lepas dari Padepokan tempat mereka menimba ilmu. Sebagai apresiasi atas prestasi yang diraih, Pemkab memfasilitasi pendirian Padepokan Pencak Silat Tapak Suci bertaraf nasional di Desa Wanadadi yang pada tahun 2005 diresmikan langsung oleh Wakil Gubernur Jateng saat itu, H.Mufizd Ali SH.
Menurut Soebardi sampai saat ini sebenarnya ada 27 Padepokan Pencak Silat yang berdiri di Banjarnegara dan aktif membina atletnya secara kontinyu. “Beberapa diantaranya Persaudaraan Setia Hati (PSHT) Teratai di Merdayu, PSHT Cempaka di Danaraja, Panca Hikmadi di Mandiraja, Hisbullah di Susukan, dan Merpati Putih di SMAN 5 Banjarnegara. Selain program teknik yang menjadi inti dalam pertandingan, program lain yang diajarkan adalah bela diri, lari, senam pemanasan, dan mengambil batu dari sungai sebagai program yang bersifat tradisional,“ jelasnya.

Regenerasi dan Prestasi
Diakui Soebardi, IPSI Banjarnegara sudah menyiapkan atlet-atlet potensial yang akan mengikuti jejak Lutfan. Upaya regenerasi ini sudah membuahkan hasil, Terbukti dengan munculnya bibit-bibit baru yang mulai bisa berbicara di beberapa event daerah maupun nasional. Salah satunya adalah Rahmat Fitroh Ramdani yang juga telah menjuarai beberapa kejuaraan ditingkat provinsi maupun nasional. Bahkan beberapa waktu lalu ia juga mendampingi Lutfan pada kejuaraan UK International Championship di London. “Meski belum sehebat Lutfan, namun kiprahnya mulai diperhitungkan pesilat mancanegara Dani begitu dia disapa berhasil menyumbangkan medali emas pada porprov 2009 di kota Solo Juli lalu,” ujar Soebardi.
Di tingkat pelajar juga muncul generasi baru yang telah berkiprah di kancah nasional. Atlet yang diharapkan menjadi calon penerus Lutfan ini adalah Bangun Novenbria Yoga Pamungkas. Pada kejuaraan PPLP 2009 di Jakarta, 2 Agustus lalu, Bangun meraih emas sekaligus menjadi pesilat terbaik di kelas B Putra.
Selain itu di bagian putri, Banjarnegara juga memiliki pesilat tangguh seperti Anissa Pengesti. Kini Pengesti yang berada di Kelas C Putri itu tengah mengikuti Pelatnas Sea Games di Jakarta. Pada Bulan November tahun ini  Anissa akan tampil di Asian indoor Games 2009 di Vietnam.
Di samping ketiga nama tersebut, masih banyak nama-nama lain yang diunggulkan dan termasuk kategori atlet berprestasi tingkat provinsi dan nasional. Mereka adalah Olan, Alih Yutika Nanda, dan Nur Azizi. Selain itu ada dua atlet berprestasi lain yang diminati kontingen Yogyakarta sehingga terikat kontrak dengan DIY karena mereka sedang melanjutkan studi di sana. Kedua atlet tersebut adalah Bayu Iswara dan Harry Wibowo.
“Terbukti masih banyak atlet yang siap mengharumkan Banjarnegara di kancah nasional maupun internasional. Lutfan memang panutan bagi atlet silat di Banjarnegara, namun kita juga mempunyai tanggung jawab untuk terus meningkatkan dan mempertahankan prestasi juara dunia yang telah diperjuangkan dan dipertahankan Lutfan. Tinggal bagaimana kita pintar-pintar mengasah dan mempertahankan aset daerah ini agar jangan sampai dimanfaatkan bahkan diambil oleh daerah lain,” tambahnya.

Peran Pemkab Bagi Pengembangan Pencak Silat Banjarnegara
Bupati Banjarnegara Drs. Ir. H. Djasri MM. MT mengatakan akan mengupayakan untuk mempertahankan pencak silat sebagai cabang olah raga andalan Banjarnegara. Prnyataan tersebut disampaikan Bupati saat menanggapi prestasi Lutfan dalam Asian Martial Art Games 2009 di Thiland Awal agustus 2009 lalu. Bupati berjanji akan selalu memberi apresiasi tinggi kepada atlet yang berprestasi, baik tingkat daerah, nasional maupun internasional. Salah satu bentuk penghargaan itu adalah memberi bonus dan memenuhi kebutuhan sarana prasarana pembinaan.
“Penghargaan bagi atlet berprestasi sudah ditetapkan dalam SK Bupati sebagai bentuk perhatian Pemkab. Jika dulu ada tambahan diangkat sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT), sekarang sudah tidak bisa karena ada larangan dari Menpan supaya tidak mengangkat PTT lagi. Selain itu, sebagai anggaran rutin, bantuan dari APBD juga akan terus dialokasikan,” jelasnya.
Terkait program pembinaan, sejak tahun 2002 Bupati Djasri sudah melengkapi fasilitas latihan dengan membelikan matras berstandar nasional dengan ukuran 10X10 meter seharga Rp.25 juta. Diakui Soebardi sejak adanya matras tersebut prestasi atlet terus naik. “Dalam silat nilai terbesar diambil dari teknik bantingan, hal itu hanya bisa dilatih jika matras yang dipakai sebagai media untuk latihan memenuhi standar yang ditetapkan,” ujarnya.
Terpisah, Ketua IPSI Banjarnegara, Arifin Romli mengatakan banyaknya atlet yang melanjutkan sekolah atau kuliah di luar kota menjadi kendala bagi program pembinaan. Sebab secara otomatis mereka hilang dari pantauan pembina/pelatih dan lepas dari program pembinaan yang sudah ada.
“Di bawah kendali KONI, IPSI Banjarnegara mencoba bekerjsama dengan Diknas agar pencak silat bisa dijadikan sebagai mata pelajaran olahraga di sekolah dan diikutkan dalam Porseni. Hasilnya, atlet yang berprestasi dibawa ke PPLP di Kartosuro yang merupakan pusat latihan bagi pelajar. Disamping itu, tak lupa pemerintah harus selalu gencar mensosialisasikan pencak silat sebagai kebudayaan luhur Indonesia agar tidak sampai punah atau diklaim negara lain. Sedangkan untuk memasyarakatkan pencak silat sebagai olahraga rakyat kami bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dindikpora) untuk membuat pelatihan/penataran bagi guru olahraga dan pelatih” jelasnya.


2 komentar:

bramantyo atisto mengatakan...

maaf boleh sy tau keberadaan Sdri genuk nur aisyah saat ini,
sy teman dari JOG dan kehilangan kontak sejak tahun 2003 setelah ia wisuda dari FIK UNY...apa bila mengetahui mohon infonya di FB sy https://www.facebook.com/atisto.

terimakasih banyak atas bantuannya....

lego terry mengatakan...

salam kenal dari tapak suci serdadu DJI solo

Poskan Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys